Blognya lulusan SMAN Tegal tahun 80

Entries categorized as ‘psikologis dan keluarga’

The Amazing Child

Mei 23, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jakwirs semua, Sekedar info saja.

Selamat berlibur.

 Trims

Nur ‘Cucu’ Sutjahyo

——————————————————————— 

The Amazing Child Doktor Sayid Muhammad Husein Thabathaba’i Anak termuda yang hafal seluruh Al Quran, penerjemah Al Quran termuda dan pelajar Hauzah Ilmiah Qom yang paling belia. Anak pertama yang mampu menyampaikan semua keinginan dan percakapannya sehari-hari dengan menggunakan ayat-ayat suci Al Quran. Anak pertama yang berhasil menghafal seluruh Al Quran dengan metode isyarat. Anak pertama yang bisa dengan mudah menghubungkan satu ayat dengan lainnya dan menafsirkan ayat Al Quran dengan cara itu. Anak pertama yang dapat menjawab semua pertanyaan dengan menggunakan ayat-ayat suci Al Quran. Anak pertama dari negeri Iran yang berhasil memperoleh titel Doktor kehormatan dari salah satu universitas Inggris di usianya yang ketujuh VCD ini menjadi bukti bagi mereka yang ragu akan keagungan para penghafal Al Qur’an . Suasana dalam ruangan itu mendadak hening …para syaikh, hafidz, mufassir & jamaah lainnya menahan pembicaraan. Perhatian mereka tertuju pada sosok bocah yang sedang duduk bersila dengan tenang …dihadapan mereka . Tatapan matanya yang bulat & jernih menyapu ratusan hadirin yg berjubel ….wajahnya yg polos tampak berseri…memancarkan kharisma yg kuat ….senyumnya tipis membuat gemas siapapun yg memandang . Ya bocah itu bukan bocah biasa…sejak beberapa bulan terakhir …ia menjadi buah bibir kaum muslimin Iran . Dalam usianya yg masih balita ( 5 thn ) ia sudah hafal Al Quran beserta maknanya . Bahkan dalam kesehariannya ia berbicara dengan bahasa Al Quran. Namanya Muhammad Husein bin Thoba Thoba’i . Di depan namanya ada kata Sayyid….itu artinya ia termasuk salah satu Zurriyat Rasululloh ….orang2 menjuluki The Amazing Child …Si Bocah Ajaib . Duduk di sampingnya adalah sang Ayah …Sayyid Thoba Thoba’i …sedang berbicara … Seperti saudara2 ketahui…anak saya telah hafal Al Quran di usia balita lengkap dgn terjemahannya. Kami mengajarkan Al Quran sejak ia berumur 2 tahun 4 bulan …sebagian kami sendiri yang mengajarkannya …dan sebagian yang lain …..dia menguasai sendiri …..misalnya berbicara dgn bahasa Al Quran ….Alhamdulillah dia bisa dgn sendirinya . Ia selalu berbicara dgn bahasa Al Quran baik di dalam rumah maupun di luar rumah . Jika dibacakan sebuah kalimat dari Al Quran …ia mampu menjelaskan bahwa kalimat itu ada dalam surah ini …ayat sekian …juz sekian & berada di halaman sekian . Ia juga hafal tulisan yang berada diawal halaman & 5 halaman berikutnya . Bahkan ia hafal kalimat atau ayat2 yg serupa secara lafadz & maknanya … Sekarang ….saudara dapat bertanya langsung kepadanya tentang suatu ayat …dan tanyakan itu surah apa ….ayat berapa & di juz berapa ……. Atau bacakan kepadanya suatu terjemahan ayat ….lalu minta kepadanya untuk menyebutkan ayatnya atau menanyakan suatu tema dalam Al Quran ….. Insya Alloh …ia dapat menjelaskannya . Seorang jama’ah langsung mengangkat tangannya …tanpa dipersilahkan lebih lanjut ia bertanya dengan membaca sebuah ayat ….lantas sang ayah membacakan kembali ayat tsb kepada Husein ….. “ Wa atainahul hukma shabiyya …ayat ini di surat apa ? “ tanya sang ayah … dengan spontan Husein menjawab : “ Surah Maryam “ “ Juz berapa ? “ “ Juz ke 16 “ “ Terletak dihalaman berapa dalam surah Maryam ? “ “ Dihalaman pertama “ “ Apa arti ayat tsb ? “ “ Dan kami telah anugerahkan hukum kepadanya ketika masih dalam gendongan “ “ Ahsantum ! ….Bagus ! “ kata sang ayah …..” Sekarang bacalah beberapa ayat setelahnya “ perintah sang ayah . Maka si bocah meneruskannya hingga 3 surah selanjutnya ……..untaian firman Alloh itu mengalir lancar dari bibirnya.suaranya jernih …lafadznya fasih …hadirin menahan nafasnya . Sang ayah kembali bertanya : “ Dalam Al Quran terdapat ayat yg menyebutkan bahwa Nabi Isa yg masih bayi berdialog dengan umat seperti orang dewasa …Nah ayat ini ada di surah apa ? “ “ Di surah Ali Imron Juz ke 3 “ “ Sebutkan ayatnya “ kata sang ayah Sayyid Husein membacanya dgn lancar …dilanjutkan dgn artinya . Lalu Sayyid Thoba Thoba’I kembali memuji putranya : “ Bagus , semoga Alloh memberkatimu “ Sementara itu seorang guru membacakan surah Al Qur’an yang kemudian dibacakan kembali oleh sang ayah . “ Wakhfidh lahuma janahadz dzulli ….ayat itu ada di surah apa ? “ tanya sang ayah . Tanpa berfikir panjang Sayyid Husein menjawab : “ Al Isro “ “ Juz berapa ? “ “ Ke 15 “ “ Dihalaman berapa ? “ “ Ke 3 “ “ Sekarang ucapkan artinya “ “ Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dgn penuh kesayangan dan ucapkanlah : Wahai Tuhanku kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil “ ( Al Isro : 24 ) “ Lanjutkan ayat2 berikutnya “ pinta sang ayah lagi . Lagi2 dgn suaranya yang jernih , ia membacakan surah Al Isro hingga 2 ayat berikutnya . Hadirin mulai tidak tenang …mereka terus menerus mengucapkan lafadz takjub “ Masya Allooooh “ . Pertanyaan tak berhenti sampai disitu …hadirin semakin penasaran …seseorang yg tampaknya sengaja datang dari jauh …sengaja datang hanya untuk melihat keajaiban itu . Ia bertanya berdasarkan ayat Al Qur’an yg ia buka secara acak . “ Wahai sayyid , surah apakah yg saya bacakan ini …. Tsumma qila lahum aina ma kuntum tusyrikun ? “ “ Az Zumar “ kata sayyid Husein sambil tersenyum “ Juz berapa ? “ “ Ke 24 “ “ Di halaman berapa dalam Az Zumar ? “ “ 8 “ “ Apa arti kata Zumaro ? “ “ Berbondong – Bondong “ “ Bacalah kembali ayat tadi & lanjutkan dgn ayat berikutnya “ Dengan lancar Sayyid Husein membaca ayat tsb ….dan semua orang terpana. Sosok bocah ini seakan bersinar …menerangi hati kaum muslimin yg hadir …. ia memancarkan kharisma & kewibawaan …yang membuat orang lain mencintai dia . Diantara hadirin …ada yg menitikkan air mata krn haru ….ada pula yg sibuk membolak balik Al Quran untuk mencocokkan apa yg diucapkan si bocah . Kembali seorang jama’ah yg ahli computer bertanya : “ Di dalam Al Qur’an terdapat angka 3, 4, 5 & 6 …nah surat apa & ayat berapa itu ? “ Seperti komputer canggih …tanpa berfikir lagi Sayyid Husein menjawab yg artinya : “ Nanti ( ada orang yg akan ) mengatakan ( jumlah mereka ) adalah 3 orang , yang ke 4 adalah anjingnya & mengatakan ( jumlah mereka ) adalah 5 orang , yang ke 6 adalah anjingnya . ( Al Kahfi : 22 ) . Mendengar jawaban Sayyid Husein ….hadirin serentak melafadzkan : Masya Alloh …Lahawla wala kuwata illa billah .. Betapa tidak , seorang pakar komputer sekalipun perlu beberapa waktu untuk menemukan ayat tsb ..paling tidak beberapa menit …tapi Sayyid Husein dapat langsung menjawabnya . Jama’ah yg tadi seakan tidak puas …Ia kembali bertanya : “ Apakah ada ayat lain yg menyebutkan angka selain 3, 4, 5, 6 ? “ Setelah beberapa detik …Sayyid Husein menjawab : “ Dengan 5000 malaikat yg memakai tanda , itu surah Ali Imron ayat 125 “ “ Adakah angka yg lebih dari itu ? seperti 100.000 bahkan diatasnya ? “ “ Dan kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih , itu surah As Shoffat : 147 “ Masya Alloh …..teriak jamaah berbarengan . Di sela-sela dialog tsb …Sayyid Thoba Thoba’I bercerita bagaimana Al Qur’an sangat mewarnai tingkah polah putranya tsb . Seseorang pernah bercerita kepada kami bahwa dirinya memohon doa darinya & dijawabnya dgn membaca ayat : Saufa Astagfiru Lakum Robbi … kemudian orang itu menyinggung masalah taufiq dan dijawabnya : Wa ma taufiqi illa billah …alaihi tawakaltu wa ilaihi unibu … Kemudian beberapa minggu lalu ..Al Haj Ali …seorang hafidz … datang bertamu ke rumah kami untuk bertemu & menguji kemampuannya . Diakhir pertemuan itu ..beliau mengajaknya untuk menghadiri sebuah acara , beliau bertanya : “ Apakah kamu mau menghadirinya ? “ ia menjawab : “ Kalau ayahku mengizinkan …aku akan datang ….” Ulama itu kembali berkata : “ Aku akan membelikan kamu baju bagus supaya kamu kenakan, apakah kamu senang dengannya ? “ Anak saya menjawab : “ Walibasut Taqwa Dzalika Khair ( Pakaian Taqwa adalah yg Terbaik ) …mendengar ayahnya menceritakan hal ini …Sayyid Husein tersipu malu . Sayyid Thoba Thoba’i kemudian menceritakan pula bagaimana ia mendidik Sayyid Husein . Dengan merendah ia berkata : “ Sebenarnya saya sebagai seorang ayah tidak pantas berpesan sebagaimana yg anda inginkan . Tetapi disini saya atas nama seorang pengajar Al Quran akan berpesan kepada para bapak & ibu …bagaimana saya mengajarkan Al Quran kepadanya . Yaitu pada awalnya para bapak ibu sendiri ….harus memiliki perhatian khusus terhadap Al Quran . Di rumah harus sering membaca Al Quran …kalau tidak …jangan harap anak2 menjadi seorang penghafal Al Qur’an ..menjadi Qori yang mampu memahami makna Al Qur’an . Saya di rumah membiasakan berbicara menggunakan bahasa Al Qur’an dgn Husein , demikian juga ibunya ( yg setiap hari harus membaca Al Qur’an ) ….apalagi sbg hafidz …setiap hari kami harus membaca 2 Juz kurang lebih . Selaras dgn keahliannya di dunia, dia berada dalam lingkungan rumah yg Qur’ani… berdialogpun dgn Al Qur’an & pada akhirnya dia akan mengikuti lingkungannya ….. maka pelajarilah Al Qur’an . Di bagian akhir dialog , jama’ah meminta Sayyid Husein untuk memberikan sedikit nasihat . Sambil tersenyum dia berkata : “ Dan perintahkanlah kepada keluargamu ( untuk ) mendirikan Sholat “ Surah Thoha : 132 …Subhanalloh ….! Demikian tayangan sekitar 20 mnt VCD berjudul “ The Amazing Child “ produksi thn 2007 .

Kategori: psikologis dan keluarga

Berbagi Cinta (2)

Mei 22, 2007 · 1 Komentar

From: Daryono@ikpt.com

Subject: Fw: Berbagi Cinta

Date: Thu, 21 Dec 2006 10:12:32 +0700

To: smategal80-an@googlegroups.com

Ini cukup membuat saya trenyuh dan ini pula yang membuat saya ikut bercerita Tapi ini kejadiannya menimpa pada seekor binatang bukan pada sesama manusia seperti yang diceritakan pak Toni di atas Mungkin rasa berbagi cintanya sama , cuma beda objeknya Keluargaku terutama istriku suka seekor kucing Kucing yang kami pelihara itu sejak ia masih kecil sakit2-an ditelantarkan oleh sang induk Kami pelihara, kemudian tumbuh menjadi sehat, gemuk dan lucu sekali kalau melihat tingkah lakunya Jadi ada dua ekor tapi lain induk dan kami umpamakan kakak beradik Kemana saja ia pergi selalu berdua, tidur, bermain, bercanda…… lucu sekali Yang satu berwarna coklat, gemuk, bersih dan sehat Tapi kelihatan kasihan karena dia bisu tidak terdengar suaranya seperti kucing pada umumnya selalu meong.. meong.. kalau lagi lapar minta makan Cuma bersuara singkat ngek… ngek… Tidak nakal dan cukup jinak Yang satunya berwarna kehitam2-an , kurus dan panjang Si kurus ini yang selalu mengajak bercanda si coklat kalau sedang santai Mungkin dalam hati saya karena si coklat ini kan bisu…. jadi untuk membuat selalu ada dan ramai, si kurus selalu mengajak bermain dan bercanda Sehingga tampak ceria kedua duanya kalau sedang berdua Melihat tingkah lakunya aku sering gemes dan tertawa sendiri Ternyata binatang saja bisa membuat orang jadi terhibur Anakku dua2nya suka bermain dengan si coklat dan si kurus Di peluk, diangkat, diayun layaknya sepert anak kecil Setiap hari 3 kali makan, yang ini istriku yang selalu menyiapkan Sengaja beli “ikan cuek” atau titip tetangga yang pergi ke warung atau pasar Kalau sudah begini, saat paling ramai mereka dengan meong.. meongnya sangat berisik Tapi kalau lihat si coklat , karena dia bisu jadi cuma mondar mandir tidak seperti lainnya Ditambah lagi dengan dua ekor kucing dewasa yang setiap waktu makan tiba, dia akan datang dan minta jatah Tapi istriku melayani mereka2 layaknya anak2nya sendiri Setelah makan mereka akan pergi sendiri2, tinggallah dua ekor si coklat dan si kurus tidur di dalam rumah Beginilah setiap hari kami memperlakukan binatang ini seperti anak2 kecil yang sudah ditinggal orang tuanya Lucunya lagi setiap kali istriku pergi keluar rumah untuk suatu kepentingan misalnya ketetangga, ke warung atau kesuatu tempat Si coklat dan si kurus akan ikut dibelakangnya menguntit Setiap malam kami keluarkan, biar dia tidur di luar dan bermain di halaman Tapi setiap kali pintu di buka maka membuyarlah dia berebut masuk ke rumah Tapi sudah beberapa hari ini si kurus tidak kelihatan maka istriku mencari dan ketemu di depan rumah tetangga Tapi tampaknya ia sedang sakit lalu diangkat dan di bawa pulang Dilihat dan di perlakukan seperti anak kecil yang sedang sakit Tidak mau makan dan tengkurap saja posisinya di tempat yang dingin dan lembab Tampaknya dia sakit dibagian perut dalam hati mungkin ada yang meracuni ( perkiraan) Sampai saya perhatikan ia kuat tidak makan sampai 2 minggu lebih Badannya tambah kurus karena aslinya sudah kurus Tiba tiba si coklat juga tampaknya sakit tapi karena ia gemuk dan sehat tidak kentara Tapi malam itu istri bangun jam 03.00 untuk menunaikan kewajiban makhluknya kepada yang khalik Dan mencari cari kedua kucing kesayangannya kesemua sudut Tapi alangkah kagetnya ketika didapainya si coklat sudah terbujur kaku di belakang mesin cuci yang lembab karena habis hujan turun Istri tampak sedih aku dibangunin dari tidur dan melihat apa yang terjadi Benar bahwa si coklat yang menjadi lesayangan kami telah mati dengan mata melotot Sepertinya ia membawa beban berat atau sakit berat Kemudian aku angkat dan mencoba untuk menutup matanya supaya bisa merem Semua anak2ku aku bangunin untuk melihat yang terakhir kali kalau si coklat telah mati Dan menyaksikan penguburannya Aku tutup tubuhnya dengan selembar kain dan membuat lubang kubur di dalam rumah Waktu menunjukkan jam 03.30 aku melanjukan untuk mengambil wudhu dan sholat Sampai kisah ini saya tulis si kurus sudah beberapa hari yang lalu tampak sudah sehat makan seperti bisanya Dan ternyata si kurus sudah punya teman lagi Si coklat belang2 sebagai temannya pengganti si coklat yang mati Dan anehnya lagi coklat belang2 yang baru, ternyata tidak bisu melainkan cerewet maka kami sepakat menamakannya “si cerewet”

Kategori: filsafat · psikologis dan keluarga

Berbagi Cinta (1)

Mei 22, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

To : Jakwirs,  
      Nggo sing durung maca.
      Salam kompak selalu.
      Toni.
     

From: jamil azzaini [jamil_azzaini@yahoo.com]
Sent:
Thursday, December 14, 2006 10:05 AM
To:
corporateforum_cd@yahoogroups.com
Subject:
[corporateforum_cd] Berbagai Cinta

Berbagi Cinta
Jamil Azzaini –
Kubik Leadership
Jakarta, Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Berbagi dana, pakaian layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk material lainnya. Jawaban itu boleh jadi karena pengaruh ide materilistik yang telah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk material.Setiap tahun, ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survey untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan

Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu dengan seorang bocah bernama Nina. Nina, apa yang anakku mau sayang begitu ayah saya membuka percakapan. Nina mau baju baru?, sepatu baru?, tas baru? Atau apa nak? tambah ayah saya. Nggak ah ntar om marah jawab Nina. nggak sayang, om tidak akan marah ayah saya menimpali. Nggak ah… ntar om marah Nina mengulang jawabannya.

Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan orang tua saya semakin menjadi. Maka dia dekati lagi Nina sambil berkata, ayo nak katakan apa yang kamu minta sayang Tapi janji ya om tidak marah jawab Nina manja. Om janji tidak akan marah sayang tegas ayah saya. Bener om tidak akan marah sahut Nina agak ragu. Ayah saya menganggukkan kepala pertanda bahwa ia setuju untuk tidak marah

Nina menatap tajam wajah ayah saya. Sementara ayah saya berpikir, apa gerangan yang diminta oleh Nina. Seberapa mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah pikir ayah saya. Sambil tersenyum orang tua saya mengatakan ayo nak, katakan, jangan takut, om tidak akan marah nak.

Dengan terus menatap wajah ayah saya, Nina berkata; bener ya om tidak marah. Sekali lagi ayah saya mengganggukan kepala. Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya om, boleh nggak saya memanggil ayah Mendengar jawaban itu, tak kuasa ayah saya membendung air matanya. Segera dia peluk Nina dan mengatakan tentu anakku.. tentu anakku…mulai hari ini Nina boleh memanggil ayah, bukan om Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata terima kasih ayah… terima kasih ayah…

Hari itu, adalah hari yang tak akan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu yang berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang, ayah saya berkata kepada Nina anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu, apa yang kamu minta nak? Khan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil ayah sergah Nina.

Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau yang lain, pasti akan ayah kasih. Sambil memegang tangan ayah saya, Nina memohon nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, saya minta ayah bawa foto bareng ayah, ibu dan kakak-kakak, boleh khan ayah?

Tiba-tiba kaki orang tua saya lunglai, dia terduduk, bersimpuh di depan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya; buat apa foto itu nak? Tanpa ragu Nina menjawab Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak Nina. Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah ia tak mau berpisah dengan seorang bocah yang menjadi guru kehidupan di hari itu.

Terima kasih Nina, walau usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta. Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka kehidupan anda akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan anda di dunia.

Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini
adalah Inspirator; Sukses-Mulia, Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup

Kategori: filsafat · psikologis dan keluarga

Men vs Women

Mei 22, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Men:
1. All men are extremely busy.
2. Although they are so busy, they still have time for women.
3. Although they have time for women, they don’t really care for them.
4. Although they don’t really care for them, they always have one around.
5. Although they always have one around them, they always try their luck with others.
6. Although they try their luck with others, they get really pissed off if the women leaves them.
7. Although the women leaves them they still don’t learn from their mistakes and still try their luck with others.

Women:
1. The most important thing for a woman is financial security.
2. Although this is so important, they still go out and buy expensive clothes.
3. Although they always buy expensive clothes, they never have something to wear.
4. Although they never have something to wear, they always dress beautifully.
5. Although they always dress beautifully, their clothes are always just “an old rag”.
6. Although their clothes are always “just an old rag”, they still expect you to compliment them.
7. Although they expect you to compliment them, when you do, they don’t believe you

Kategori: psikologis dan keluarga

Visi Indonesia 2030

Mei 22, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dari pikiran-rakyat

Visi Indonesia 2030

Oleh ISHADI S.K.

APA yang akan terjadi pada tahun 2030? Menurut Yayasan Indonesia Forum, pada tahun itu, ”income per capita” Indonesia mencapai 18.000 dolar AS per tahun. Dengan jumlah penduduk 285 juta orang, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi dunia kelima setelah Cina, Amerika Serikat, Uni Eropa dan India.

Tidak semua setuju. Pakar politik Universitas Indonesia (UI), Dr. Arbi Sanit menyatakan Visi 2030, merupakan “khayalan belaka”. Salahuddin Wahid, mantan calon wakil presiden menyebutnya “tidak masuk akal”. Sukardi Rinakit dari Sugeng Sarijadi Syndicate menulis Visi 2030 akan terlaksana “kalau pada tahun 2020 kita menjadi bagian Negara Eropa Utara dan Amerika Serikat”. Menurut dia, Visi 2030 hanya “kiat pengusaha mengail ikan di Istana.”

Kwik Kian Gie menulis: “Mereka yang menyusun bukan orang yang mempunyai visi. Sebagian pedagang yang lainnya lulusan universitas dan teknokrat yang miskin falsafah”. Katanya dengan sinis: “Lebih baik onani dari pada mimpi”. Tidak hanya pakar yang memberi komentar negatif. Sutardji Calzoum Bachri “Presiden Penyair Indonesia” menyebut: Visi 2030 sebagai “mimpi yang kelewat batas”.

Sementara Gus Pur – di acara Republik Benar Benar Mimpi (BBM) mengatakan: “Paling hanya beda tipis kalau tidak tercapai 2030, yah akan tercapai 3030″. Gus Pur adalah salah satu figur acara dagelan politik yang lumanyan “mencerdaskan” di Metro TV.
Tidak semua pesimistis. Pengamat Ekonomi Djisman Simanjuntak, Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Hadiningsih, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Bun Bunan Hutapea, Mantan Perwira Tinggi TNI Letjen Pur. Sayidiman Suryohadiprodjo, Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfuddzidiq dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir, percaya bahwa Visi Indonesia 2030 akan tercapai dengan beberapa syarat.

Mengapa “Indonesia Forum” perlu membuat Visi 2030? Padahal mungkin sebagian dari kita sudah tidak bisa menikmati?

Visi itu memang dimaksudkan untuk generasi penerus, agar mereka menikmati Indonesia yang lebih baik kelak. Angka 18.000 dolar bukan angka yang mutlak, akan tetapi sekadar target, bisa lebih bisa juga kurang. Angka itu dinyatakan untuk membangkitkan optimisme bahwa ada harapan di masa depan. Tanpa sikap optimistis itu tidak akan pernah lahir semangat untuk bekerja keras menuju “bangsa maju” yang dicita-citakan di tengah keterpurukan bangsa sekarang.

Sebaliknya, kita jangan terjerumus dalam pesimisme yang berlarut. Tahun 1959, ketika Lee Kwan Yew mengajak bangsa Singapura bangkit dan bekerja keras agar pada tahun 1980 bisa menyamai bangsa Eropa, tidak ada seorang pun yang percaya, karena waktu itu gross national product (GNP) per capita Singapura hanya 400 dolar AS. Faktanya, tatkala Lee mengundurkan diri 31 tahun kemudian (1990), GNP per capita Singapura meningkat 60 kali lipat atau 6000%.

Visi Indonesia awalnya digagas di Manado bulan Juli 2006 dalam Kongres XVI Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), beberapa saat setelah CT (Chairul Tanjung) terpilih sebagai Ketua Yayasan Indonesia Forum yang baru. Pembicaraan awal bahkan hanya dilakukan di sebuah restoran sea food antara CT, Raden Pardede dan saya. Gagasan ini kemudian lebih mengemuka ketika UBS (United Bank of Switzerland) , Januari lalu menerbitkan laporan setebal 300 halaman, “Essential 2007″. Disusun oleh 1000 ekonom, analis dan peneliti, yang menyebutkan bahwa pada tahun 2025, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar setelah Cina, Amerika Serkat, Uni Eropa, India, Jepang dan Brasilia.

Data inilah yang kemudian menginspirasi tim perumus – dipimpin Dr. Raden Pardede ketika menyusun kerangka dasar “Visi Indonesia 2030″. Kelompok itu terdiri dari wakil pengusaha, ekonom, dan birokrat, di antaranya Bambang P.S Brojonegoro dan M. Chatib Basri (Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia). Ainun Na’im (UGM), Suahasil Nazara (Institut Pertanian Bogor), John Prasetyo, TP Rachmat dan Darwin Silalahi (kalangan bisnis) serta Anny Ratnawati (birokrat). Dengan demikian, tidak benar kalau dikatakan di belakang Visi Indonesia 2030 adalah Anthony Salim atau konglomerat lain.

Visi ini juga bukan gagasan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mengapa peluncurannya harus di istana dan dihadiri oleh jajaran menteri dan dan para pimpinan lembaga tinggi negara? Karena periode terpenting dari Visi 2030 adalah 2005-2010, yang kebetulan menjadi tanggung jawab pemerintah sekarang.

Menyimak pro dan kontra Visi Indonesia 2030 secara sederhana bisa dilihat sebagai dua kelompok yang berbeda cara pandangnya. Pihak pertama, mereka yang pesimistis bahwa visi itu akan terlaksana melihat kondisi riil yang sama sekali tidak mendukung prediksi yang dikemukakan. Sementara “Indonesia Forum” melihatnya lewat pemikiran out of the box , sehingga dengan rasa optimisme yakin bahwa angka 18.000 dolar AS bukan hal yang mustahil.

Catatan persyaratannya memang panjang: reformasi perpajakan, reformasi birokrasi, reformasi sistem hukum, good governance dan ditunjang komitmen semua pihak. Akhirnya paling penting di atas semua itu adalah adanya pemimpin yang memiliki “a vision and strong leadership”.

Seperti dikatakan Maxwell: “The pessimist complains about the wind, the optimist expects it to change. The leader adjusts the sails (Yang pesimis merisaukan badai yang kencang. Yang optimis mengharap badai segera berlalu. Pemimpin mengatur arah layar agar tetap melaju.***

Penulis , pengurus Yayasan Indonesia Forum.

Kategori: filsafat · psikologis dan keluarga

What Are You Missing In Life?

Mei 22, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

What Are You Missing In Life?

Vikki Kumar

Something is missing!

After attaining the best of things we once desired in our lives, there is a feeling of missing out on something really important, which nags us all the time.

Ever wondered what it is?

That feeling of emptiness, which is so predominant in our lives, often makes us question the reason of our existence – why am I living?  –  For what am I living?  –  For whom should I live?

Our mind is clogged by these thoughts, often leaving us with a feeling of helplessness and frustration. Nothing interests us any more; not fame, fortune, family nor friends. Our life is stagnated. We work tirelessly to attain what we have, but it’s of no use to us as it doesn’t interest us any more.

Regardless of the status we hold in the society, this kind of confusion does occur in everyone’s lives. Have we ever wondered what it is that we are missing in our highly contended life?

We even venture out to seek that, running from pillar to post. We fail to understand what exactly is not present in our so fulfilled life. I think the reason for this syndrome is the fact that we miss God.

While growing up as an individual, in every aspect, we forget to thank the almighty for the smallest of small mercies He bestows upon us. His presence is completely erased from our lives, so our belief in the presence of God diminishes, over a period of time.

Subsequently, the place is empty, creating a huge vacuum in us forever. Being thankful is a way of appreciating the goodness of life. Most of the time we enjoy and appreciate the good things in life, but fail to thank the one who provided them. This kind of behavior precipitates a feeling of guilt, and eats at us all the time.

Like Swami Vivekanand said, “Remember Him effortlessly. Make God a habit. If He is the habit, contentment is optimum; the feeling of lost and being lonely will never bog us down. Let His omnipresence empower us, leaving the result on Him when we perform our duties. With dedication, there is no reason for us to be negative about anything in our life

Kategori: filsafat · psikologis dan keluarga

pesan orang tua untuk anaknya

Mei 22, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jakwirs, terlampir pesan orang tua untuk anaknya.

Sekarang mungkin kita bisa membacanya sebagai seorang anak.25 tahun lagi mungkin kita sudah menjadi orang tua yang mengirim pesan ini.

Waktu terus berjalan tanpa bisa kita hentikan dan semua manusia akan menjalani siklus yang sama.

anakku-yang-kusayangi.pps

Kategori: psikologis dan keluarga

Mimpi, perlukah ?

April 6, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jakwirs kabeh, tulisane Kwik Kian Gie biasane menarik untuk disimak dan direnungkan.
Di tulisan dibawah yang diomongkan memang tentang negara, tapi sebenarnya berlaku juga bagi individu/pribadi/keluarga.

Mimpi itu penting, tapi harus dikuti dengan upaya. Bappenas nggak berani mengeluarkan mimpi-mimpinya mungkin karena tidak yakin akan ada upaya yang bisa mewujudkan mimpi-mimpinya. Tapi kalau nggak ada mimpi ya nggak akan pernah jelas apa yang akan dituju…
Pada tataran yang lebih simpel –> pribadi/individu, mimpi juga merupakan hal yang sangat penting. Kita akan jadi seperti apa 10 tahun yang akan datang juga tergantung ‘mimpi’ kita dan upaya mewujudkan mimpi tersebut dan potensi yang kita miliki.
Namun mimpi juga perlu mempertimbangkan potensi yang dimiliki. Yang paling pas kalo mimpinya pas sesuai potensi dan usahanya. Angger ngimpine keduwuren mungkin dadine malah stress, angger ngimpine terlalu rendah eman-eman potensine ya…

Tks
wassalam
arko..

———————————————————————–
Bisnis Indonesia 02 April 2007

Saya mimpi demokrasi & visi 2030

Ada dua ungkapan penting dari dua orang penting di negeri ini
belakangan ini.

Pertama, pidato pengukuhan Dr Boediono, Menko Perekonomian, sebagai
guru besar pada Universitas Gajah Mada. Kedua, peluncuran buku Visi
Indonesia 2030 oleh Yayasan Indonesia Forum.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggunakan kata ‘mimpi’ saat
menyampaikan sambutannya pada acara Yayasan Indonesia Forum. Kepala
Negara mengatakan, “kita tidak perlu malu bermimpi.”

Setelah membaca buku visi tersebut, dalam tidur saya mimpi. Saya
hidup dalam Kerajaan Mimpi dengan pendapatan nasional per kapita
(PNPK) US$20.000. Maka negara itu demokrasinya sudah mantap.
Menurut sang guru besar yang baru, tetapi sudah lama mengurus negara
dalam berbagai kapasitas, kalau pendapatan per kapita telah melampaui
angka tertentu, demokrasinya sudah mantap. Dalam Kerajaan Mimpiku,
pendapatan per kapita jauh melampaui angka yang disebutnya, karena
sudah mencapai US$20.000.

Kerajaan Mimpiku sebuah kerajaan mutlak, dengan sang raja beserta
seluruh keluarganya mempunyai kekuasaan absolut untuk berbuat apa
saja. Maka sang raja membagi pendapatan nasional sebesar US$2 triliun
itu kepada keluarga besarnya, yang terdiri dari 100 orang, sebesar
US$1,5 triliun. Sisanya, yang US$500 miliar, dibagikan kepada seluruh
rakyat dikurangi 100 anggota keluarga besar raja, atau sebanyak
99.999.900 orang.

Pendapatan rata-rata 100 anggota keluarga kerajaan sebesar US$15
miliar per tahun, sedangkan rakyat yang berjumlah 99.999.900 orang,
masing-masing memiliki pendapatan sebesar US$5.000 per tahun.

Dalam pidato pengukuhan Boediono, terdapat empat kalimat yang isinya
sama, yaitu “pendapatan itu menyentuh dan dapat dinikmati oleh
sebagian besar rakyat”, yang olehnya diistilahkan “broad base.”
Nalarnya kira-kira begini. Kalau pendapatan setiap orang tinggi,
jiwanya tentu juga matang dan sudah berpendidikan, maka bisa
berdemokrasi atau menikmati kebebasan secara bertanggung jawab.
Itulah sebabnya, menurut sang mahaguru, pembagian pendapatan per
kapita yang harus tinggi itu juga harus merata agar demokrasi bisa
selamat.

Dalam Kerajaan Mimpiku, pendapatan per kapita memang tinggi, yaitu
US$20.000, tetapi tidak dinikmati secara merata oleh seluruh rakyat.
Kaum ningrat menikmati pendapatan US$15 miliar, sedangkan mayoritas
rakyat hanya US$5.000 per tahun.

Monarki mutlak

Itulah sebabnya di Kerajaan Mimpiku tidak ada demokrasi. Yang ada
adalah monarki mutlak. Saya kepingin demokrasi. Maka saya juga
mengatakan hal yang sama.

Perdana Menteri Kerajaan Mimpiku mirip Bung Karno. Dia bertanya,
“Bagaimana caranya memperoleh apa yang anda artikan dengan broad
base?” Ketika saya bengong, Perdana Menteri membuka sepatu dan kaos
kakinya. Dia menunjuk jempol kakinya sambil mengatakan: “Dat weet
mijn grote teen ook.” Artinya, “Kalau ngomong-nya cuma begitu, jempol
kakiku juga tau.”

Tak lama kemudian, di Istana Presiden RI berkumpul sebagian kecil
elite bangsa yang tergabung dalam Yayasan Indonesia Forum. Yayasan
ini memberi perintah kepada perguruan tinggi dan lembaga-lembaga
penelitian yang paling terkenal. Dikatakan bahwa pada 2030 bangsa
Indonesia menjadi anggota lima besar ekonomi dunia.

Rakyat negeri ini dalam kondisi menganggur, miskin, kekurangan
makanan dan pelayanan kesehatan yang paling mendasar. Mereka bertanya-
tanya: “Bagaimana jalannya menuju ke sana.” Sang Presiden mengatakan:
“Jangan malu bermimpi.”

Malam harinya saya bermimpi lagi. Ketika terbangun, saya meneruskan
mimpiku dengan melamun. Betapa enaknya kalau menjadi orang kaya
dengan pendapatan per kapita US$18.000 per tahun. Berbagai macam hal
yang menyenangkan saya lakukan sambil tersenyum simpul.

Sayangnya, pada 2030 saya pasti sudah mati. Saya tersenyum lagi ingat
kata-kata ekonom kondang John Maynard Keynes yang mengatakan “in the
long run we are all dead.”

Saya mendapatkan buku yang dibagikan di Istana Presiden berjudul Visi
Indonesia 2030. Bagian terbesar dari nama yang tercantum di buku itu
adalah nama-nama beken.

Berkeley Mafia

Tetapi ada banyak catatan kalau mereka mau merumuskan visi Indonesia
2030.

Pertama, mereka bukan orang-orang yang mempunyai visi.
Sebagian dari mereka pedagang, yang lainnya lulusan universitas yang
sepanjang karier hidup mereka adalah teknokrat yang miskin falsafah.
Pekerjaan mereka teknokratik pragmatis. Tidak ada yang sekaliber
Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Kedua, mereka berasal hanya dari satu mashab, yaitu liberalisme
sejauh mungkin dan semutlak mungkin, yang di Indonesia dipelopori dan
diemban kelompok Berkeley Mafia. Banyak di antaranya oleh orang
Jerman disebut Fach Idioten.

Intinya, mereka mengunggulkan kekayaan alam. Sekarang pengelolaan
kekayaan alam kita lebih dari 80% dilakukan oleh perusahaan asing.
Sebanyak 92% dari kekayaan migas kita dieksploitasi perusahaan asing
yang mendapat bagian 40%, walaupun menurut formula bagi hasil hak
mereka 15%.

Sampai kini masih 40%, karena pelaksanaan ketentuan yang terkenal
dengan istilah recovery cost harus diganti terlebih dahulu.
Bagaimana mengubahnya? Tidak perlu menurut salah seorang ekonom.
Pemilikan oleh siapa tidak penting, yang terpenting adalah
manfaatnya. Lha ternyata sampai sekarang bangsa Indonesia hanya
memperoleh manfaat 60%, itu bagaimana membalikkannya? Pengelolaan
kekayaan alam juga sangat tidak transparan.

Dalam APBN pos pemasukan dari sumber daya alam nonmigas, hanya US$500
juta. Terus Freeport mengklaim bahwa setorannya kepada pemerintah
Indonesia US$1 miliar per tahun. Memangnya US$1 miliar per tahun buat
bangsa Indonesia dari Freeport sudah adil, dan karena itu kepemilikan
tidak penting?

Untuk mewujudkan visi dan misi 2030 disebutkan: “Keseimbangan pasar
terbuka dengan dukungan birokrasi yang efektif.” Yang diartikan
dengan istilah “keseimbangan pasar terbuka” itu apa ? Pasar terbuka
ya menghasilkan survival of the fittest. Terus yang seimbang apanya
dan bagaimana mewujudkannya ?

“Perekonomian yang terintegrasi dengan kawasan sekitar dan global.”
Bisakah terjadi bahwa terintegrasinya berbentuk bangsa Indonesia yang
di tengah pergaulan antarbangsa menjadi dan berfungsi sebagai kuli
bagi bangsa-bangsa lain?

Bukankah sekarang sudah demikian? Lagi-lagi, bagaimana membalikannya?
Praktik korupsi yang begitu dominan dalam kemerosotan bangsa
Indonesia dewasa ini sama sekali tidak disebut sebagai faktor
penghambat utama.

Sudahlah, saya tidak perlu meneruskannya, karena keinginan Yayasan
Indonesia Forum kan hanya mimpi? Kata “mimpi” juga tercantum dalam
bukunya yang saya sebutkan tadi. Saya lebih memilih yang lebih
konkret ketimbang bermimpi, yaitu onani saja, karena lebih bisa
dirasakan dan enak.

Kalau Presiden memang mau bervisi sampai 2030 untuk anak cucu kita,
karena buat kita in the long run we are all dead, pakailah Bappenas
yang memiliki sekitar 800 orang pegawai, yang 400 di antaranya
sarjana, termasuk yang bergelar PhD. Dari jumlah itu, ada sekitar 75
orang PhD jebolan universitas yang bermutu tinggi dari seantero
dunia. Para sarjana di Bappenas sudah lama bekerja merumuskan visi
sampai 2030. Sangat banyak kajian yang telah dirampungkan para
sarjana di Bappenas, tetapi belum berani dipublikasikan, karena
mereka ngeri ditertawai orang.

Di antara para sarjana itu, ada yang bertanya apa mungkin dan apa ada
gunanya membuat visi sampai 2030? Ada yang bahkan mengatakan jangan-
jangan Bappenas, yang ingin jadi think tank, akhirnya menjadi sinking
tank kalau berani bermimpi sampai 2030.

Karena adanya kontroversi ini, berbagai produk Bappenas-yang jauh
lebih bagus ketimbang Yayasan Indonesia Forum- masih ditahan. Ya
memang begitulah manusia, semakin ada isinya semakin nunduk seperti
padi yang sudah matang.

Lain dengan tong kosong yang selalu nyaring bunyinya!

Oleh Kwik Kian Gie
Mantan Menneg PPN / Kepala Bappenas

Kategori: psikologis dan keluarga