Blognya lulusan SMAN Tegal tahun 80

Entries categorized as ‘filsafat’

mengubah dunia dengan mengubah diri sendiri

Mei 19, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

 

Jakwirs, ini ada cerita sufi sederhana dari milis sebelah untuk bahan renungan di hari libur Kebangkitan Nasional eh salah ya….
Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini:

Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan aku selalu berdoa: “Tuhan,
berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia!”

Ketika aku sudah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku
sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi:
“Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan
denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas.”

Sekarang ketika aku sudah menjadi tua dan saat kematianku sudah
dekat, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya
sekarang adalah: “Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku
sendiri.” Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak
begitu menyia-nyiakan hidupku!’

- Setiap orang berpikir mau mengubah umat manusia. Hampir tak seorang
pun berpikir bagaimana mengubah dirinya sendiri -

Kategori: filsafat

Berbagi Cinta (2)

Mei 22, 2007 · 1 Komentar

From: Daryono@ikpt.com

Subject: Fw: Berbagi Cinta

Date: Thu, 21 Dec 2006 10:12:32 +0700

To: smategal80-an@googlegroups.com

Ini cukup membuat saya trenyuh dan ini pula yang membuat saya ikut bercerita Tapi ini kejadiannya menimpa pada seekor binatang bukan pada sesama manusia seperti yang diceritakan pak Toni di atas Mungkin rasa berbagi cintanya sama , cuma beda objeknya Keluargaku terutama istriku suka seekor kucing Kucing yang kami pelihara itu sejak ia masih kecil sakit2-an ditelantarkan oleh sang induk Kami pelihara, kemudian tumbuh menjadi sehat, gemuk dan lucu sekali kalau melihat tingkah lakunya Jadi ada dua ekor tapi lain induk dan kami umpamakan kakak beradik Kemana saja ia pergi selalu berdua, tidur, bermain, bercanda…… lucu sekali Yang satu berwarna coklat, gemuk, bersih dan sehat Tapi kelihatan kasihan karena dia bisu tidak terdengar suaranya seperti kucing pada umumnya selalu meong.. meong.. kalau lagi lapar minta makan Cuma bersuara singkat ngek… ngek… Tidak nakal dan cukup jinak Yang satunya berwarna kehitam2-an , kurus dan panjang Si kurus ini yang selalu mengajak bercanda si coklat kalau sedang santai Mungkin dalam hati saya karena si coklat ini kan bisu…. jadi untuk membuat selalu ada dan ramai, si kurus selalu mengajak bermain dan bercanda Sehingga tampak ceria kedua duanya kalau sedang berdua Melihat tingkah lakunya aku sering gemes dan tertawa sendiri Ternyata binatang saja bisa membuat orang jadi terhibur Anakku dua2nya suka bermain dengan si coklat dan si kurus Di peluk, diangkat, diayun layaknya sepert anak kecil Setiap hari 3 kali makan, yang ini istriku yang selalu menyiapkan Sengaja beli “ikan cuek” atau titip tetangga yang pergi ke warung atau pasar Kalau sudah begini, saat paling ramai mereka dengan meong.. meongnya sangat berisik Tapi kalau lihat si coklat , karena dia bisu jadi cuma mondar mandir tidak seperti lainnya Ditambah lagi dengan dua ekor kucing dewasa yang setiap waktu makan tiba, dia akan datang dan minta jatah Tapi istriku melayani mereka2 layaknya anak2nya sendiri Setelah makan mereka akan pergi sendiri2, tinggallah dua ekor si coklat dan si kurus tidur di dalam rumah Beginilah setiap hari kami memperlakukan binatang ini seperti anak2 kecil yang sudah ditinggal orang tuanya Lucunya lagi setiap kali istriku pergi keluar rumah untuk suatu kepentingan misalnya ketetangga, ke warung atau kesuatu tempat Si coklat dan si kurus akan ikut dibelakangnya menguntit Setiap malam kami keluarkan, biar dia tidur di luar dan bermain di halaman Tapi setiap kali pintu di buka maka membuyarlah dia berebut masuk ke rumah Tapi sudah beberapa hari ini si kurus tidak kelihatan maka istriku mencari dan ketemu di depan rumah tetangga Tapi tampaknya ia sedang sakit lalu diangkat dan di bawa pulang Dilihat dan di perlakukan seperti anak kecil yang sedang sakit Tidak mau makan dan tengkurap saja posisinya di tempat yang dingin dan lembab Tampaknya dia sakit dibagian perut dalam hati mungkin ada yang meracuni ( perkiraan) Sampai saya perhatikan ia kuat tidak makan sampai 2 minggu lebih Badannya tambah kurus karena aslinya sudah kurus Tiba tiba si coklat juga tampaknya sakit tapi karena ia gemuk dan sehat tidak kentara Tapi malam itu istri bangun jam 03.00 untuk menunaikan kewajiban makhluknya kepada yang khalik Dan mencari cari kedua kucing kesayangannya kesemua sudut Tapi alangkah kagetnya ketika didapainya si coklat sudah terbujur kaku di belakang mesin cuci yang lembab karena habis hujan turun Istri tampak sedih aku dibangunin dari tidur dan melihat apa yang terjadi Benar bahwa si coklat yang menjadi lesayangan kami telah mati dengan mata melotot Sepertinya ia membawa beban berat atau sakit berat Kemudian aku angkat dan mencoba untuk menutup matanya supaya bisa merem Semua anak2ku aku bangunin untuk melihat yang terakhir kali kalau si coklat telah mati Dan menyaksikan penguburannya Aku tutup tubuhnya dengan selembar kain dan membuat lubang kubur di dalam rumah Waktu menunjukkan jam 03.30 aku melanjukan untuk mengambil wudhu dan sholat Sampai kisah ini saya tulis si kurus sudah beberapa hari yang lalu tampak sudah sehat makan seperti bisanya Dan ternyata si kurus sudah punya teman lagi Si coklat belang2 sebagai temannya pengganti si coklat yang mati Dan anehnya lagi coklat belang2 yang baru, ternyata tidak bisu melainkan cerewet maka kami sepakat menamakannya “si cerewet”

Kategori: filsafat · psikologis dan keluarga

Berbagi Cinta (1)

Mei 22, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

To : Jakwirs,  
      Nggo sing durung maca.
      Salam kompak selalu.
      Toni.
     

From: jamil azzaini [jamil_azzaini@yahoo.com]
Sent:
Thursday, December 14, 2006 10:05 AM
To:
corporateforum_cd@yahoogroups.com
Subject:
[corporateforum_cd] Berbagai Cinta

Berbagi Cinta
Jamil Azzaini –
Kubik Leadership
Jakarta, Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Berbagi dana, pakaian layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk material lainnya. Jawaban itu boleh jadi karena pengaruh ide materilistik yang telah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk material.Setiap tahun, ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survey untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan

Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu dengan seorang bocah bernama Nina. Nina, apa yang anakku mau sayang begitu ayah saya membuka percakapan. Nina mau baju baru?, sepatu baru?, tas baru? Atau apa nak? tambah ayah saya. Nggak ah ntar om marah jawab Nina. nggak sayang, om tidak akan marah ayah saya menimpali. Nggak ah… ntar om marah Nina mengulang jawabannya.

Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan orang tua saya semakin menjadi. Maka dia dekati lagi Nina sambil berkata, ayo nak katakan apa yang kamu minta sayang Tapi janji ya om tidak marah jawab Nina manja. Om janji tidak akan marah sayang tegas ayah saya. Bener om tidak akan marah sahut Nina agak ragu. Ayah saya menganggukkan kepala pertanda bahwa ia setuju untuk tidak marah

Nina menatap tajam wajah ayah saya. Sementara ayah saya berpikir, apa gerangan yang diminta oleh Nina. Seberapa mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah pikir ayah saya. Sambil tersenyum orang tua saya mengatakan ayo nak, katakan, jangan takut, om tidak akan marah nak.

Dengan terus menatap wajah ayah saya, Nina berkata; bener ya om tidak marah. Sekali lagi ayah saya mengganggukan kepala. Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya om, boleh nggak saya memanggil ayah Mendengar jawaban itu, tak kuasa ayah saya membendung air matanya. Segera dia peluk Nina dan mengatakan tentu anakku.. tentu anakku…mulai hari ini Nina boleh memanggil ayah, bukan om Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata terima kasih ayah… terima kasih ayah…

Hari itu, adalah hari yang tak akan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu yang berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang, ayah saya berkata kepada Nina anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu, apa yang kamu minta nak? Khan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil ayah sergah Nina.

Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau yang lain, pasti akan ayah kasih. Sambil memegang tangan ayah saya, Nina memohon nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, saya minta ayah bawa foto bareng ayah, ibu dan kakak-kakak, boleh khan ayah?

Tiba-tiba kaki orang tua saya lunglai, dia terduduk, bersimpuh di depan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya; buat apa foto itu nak? Tanpa ragu Nina menjawab Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak Nina. Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah ia tak mau berpisah dengan seorang bocah yang menjadi guru kehidupan di hari itu.

Terima kasih Nina, walau usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta. Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka kehidupan anda akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan anda di dunia.

Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini
adalah Inspirator; Sukses-Mulia, Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup

Kategori: filsafat · psikologis dan keluarga

Gubuk yang Terbakar

Mei 22, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Gubuk yang Terbakar

Penulis tidak diketahui

Satu-satunya orang yang selamat dari sebuah kapal yang karam, terapung dan terdampar di sebuah pulau tidak berpenghuni. Ia berdoa tanpa henti agar Tuhan menyelamatkannya, dan setiap hari ia menatapi horison mencari-cari tanda bantuan, tapi tidak ada tanda-tanda. Kelelahan, ia akhirnya berhasil membangun sebuah gubuk kecil dari sisa-sisa kayu yang hanyut, sebagai pelindung dirinya. Ia pun hidup sehari-hari dengan cara-cara primitif yang bisa diingatnya, termasuk menyalakan api dengan batu dan kayu. Suatu hari, setelah kembali dari mencari makanan, ia tiba kembali di gubuknya dan menemukan gubuknya habis terbakar, dan yang tersisa hanyalah asap yang mengepul dan membumbung tinggi. Yang terburuk pun sudah terjadi, pikirnya. Segalanya sudah hilang. Ia tersengat amarah dan kekecewaan. “Tuhan, bagaimana Tuhan bisa tega melakukan ini kepada saya?” serunya.

Pagi berikutnya, ia terbangun oleh suara kapal, yang terlihat mendekati pulau. Ternyata kapal itu datang untuk menyelamatkannya. Masih terkejut bercampur riang, ia bertanya, “Bagaimana kalian bisa tahu saya ada di sini?” Para kelasi kapal, sambil membantunya naik menjawab, “Kami melihat tanda asap yang kamu buat!”

============ ===

Moral kisah

Mudah sekali untuk hancur saat segala sesuatunya menjadi buruk. Janganlah kehilangan hati, karena Tuhan tetap bekerja walaupun di tengah penderitaan dan kesakitan kita. Ingatlah kali berikut gubuk Anda terbakar dan hancur, mungkin itu adalah tanda asap sebagai kemuliaan Tuhan.

Kategori: filsafat

Filosofi Hidup

Mei 22, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

K esederhanaan

Kebutuhan seseorang terbatas, namun keinginan seseorang tak terbatas, terlalu banyak menikmati warna bisa merusak penglihatan, terlalu banyak menikmati bunyi bisa merusak pendengaran, terlalu banyak menikmati makanan bisa merusak rasa, terlalu banyak melakukan kegiatan seperti berburu, bisa merusak pikiran dan kesehatan mental, terlalu banyak mengumpulkan kekayaan membuat orang tidak merasa aman dan rusak mentalnya, jadi, orang yang hidup sederhana hanya mencari makan, bukan kepuasan rasa, dia lebih suka hidup sederhana.

K eberhasilan

Orang di dunia menganggap reputasi dan keberhasilan terlalu serius, sehingga dia gelisah jika dipuji dan dihina, hidup dalam ketakutan mendatangkan bencara, mengapa ? Di mata orang, kedudukan yang tinggi   dianggap mulia, membuat dia merasa lebih tinggi daripada orang lain, karena itu ada rasa takut, jika hilang, dia akan mendapatkan kesulitan

 

P erbuatan

Apa yang dibawa belum tentu miliknya, apa yang dimiliki di dunia ini tidak akan dibawa. Tetapi apa yang telah diperbuat itu pasti menjadi miliknya dan akan dibawa

Kategori: filsafat

MENUMBUHKAN JAGUNG YANG BAGUS

Mei 22, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

MENUMBUHKAN JAGUNG YANG BAGUS

Penulis tidak diketahui

Tersebutlah seorang petani Nebraska yang menanam jagung ‘sang juara’. Setiap tahun ia mengikutkan jagungnya ke pameran negeri, di mana jagungnya memenangkan pita biru. Suatu hari sebuah koran lokal mewawancarainya dan mempelajari sesuatu yang sangat menarik tentang bagaimana ia menumbuhkan jagungnya. Reporter tersebut mengetahui bahwa petani tersebut berbagi bibit jagung yang sama dengan para tetangganya.

“Bagaimana Anda bisa sanggup berbagi bibit jagung terbaik Anda dengan tetangga Anda, karena mereka juga ikut memasukkan jagung mereka di kompetisi bersama Anda setiap tahun?” tanya sang reporter.

“Begini, tuan,” kata si petani. “Tidak tahukah Anda? Angin mengambil serbuk dari jagung yang siap ranum dan menerbangkannya dari ladang ke ladang. Jika tetangga saya menanam jagung yang rendah kualitasnya, penyiraman serbuk antar ladang oleh angin ini akan menurunkan kualitas jagung saya. Jika saya ingin menumbuhkan jagung yang bagus, saya harus menolong tetangga saya menumbuhkan jagung yang bagus pula.”

==================

Moral Kisah

Beberapa orang percaya bahwa dengan membantu orang lain mendapatkan yang terbaik, kita juga mendapatkan yang terbaik. Ini bisa jadi sebuah PILIHAN bersikap untuk kita.

Kategori: filsafat

Visi Indonesia 2030

Mei 22, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dari pikiran-rakyat

Visi Indonesia 2030

Oleh ISHADI S.K.

APA yang akan terjadi pada tahun 2030? Menurut Yayasan Indonesia Forum, pada tahun itu, ”income per capita” Indonesia mencapai 18.000 dolar AS per tahun. Dengan jumlah penduduk 285 juta orang, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi dunia kelima setelah Cina, Amerika Serikat, Uni Eropa dan India.

Tidak semua setuju. Pakar politik Universitas Indonesia (UI), Dr. Arbi Sanit menyatakan Visi 2030, merupakan “khayalan belaka”. Salahuddin Wahid, mantan calon wakil presiden menyebutnya “tidak masuk akal”. Sukardi Rinakit dari Sugeng Sarijadi Syndicate menulis Visi 2030 akan terlaksana “kalau pada tahun 2020 kita menjadi bagian Negara Eropa Utara dan Amerika Serikat”. Menurut dia, Visi 2030 hanya “kiat pengusaha mengail ikan di Istana.”

Kwik Kian Gie menulis: “Mereka yang menyusun bukan orang yang mempunyai visi. Sebagian pedagang yang lainnya lulusan universitas dan teknokrat yang miskin falsafah”. Katanya dengan sinis: “Lebih baik onani dari pada mimpi”. Tidak hanya pakar yang memberi komentar negatif. Sutardji Calzoum Bachri “Presiden Penyair Indonesia” menyebut: Visi 2030 sebagai “mimpi yang kelewat batas”.

Sementara Gus Pur – di acara Republik Benar Benar Mimpi (BBM) mengatakan: “Paling hanya beda tipis kalau tidak tercapai 2030, yah akan tercapai 3030″. Gus Pur adalah salah satu figur acara dagelan politik yang lumanyan “mencerdaskan” di Metro TV.
Tidak semua pesimistis. Pengamat Ekonomi Djisman Simanjuntak, Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Hadiningsih, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Bun Bunan Hutapea, Mantan Perwira Tinggi TNI Letjen Pur. Sayidiman Suryohadiprodjo, Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfuddzidiq dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir, percaya bahwa Visi Indonesia 2030 akan tercapai dengan beberapa syarat.

Mengapa “Indonesia Forum” perlu membuat Visi 2030? Padahal mungkin sebagian dari kita sudah tidak bisa menikmati?

Visi itu memang dimaksudkan untuk generasi penerus, agar mereka menikmati Indonesia yang lebih baik kelak. Angka 18.000 dolar bukan angka yang mutlak, akan tetapi sekadar target, bisa lebih bisa juga kurang. Angka itu dinyatakan untuk membangkitkan optimisme bahwa ada harapan di masa depan. Tanpa sikap optimistis itu tidak akan pernah lahir semangat untuk bekerja keras menuju “bangsa maju” yang dicita-citakan di tengah keterpurukan bangsa sekarang.

Sebaliknya, kita jangan terjerumus dalam pesimisme yang berlarut. Tahun 1959, ketika Lee Kwan Yew mengajak bangsa Singapura bangkit dan bekerja keras agar pada tahun 1980 bisa menyamai bangsa Eropa, tidak ada seorang pun yang percaya, karena waktu itu gross national product (GNP) per capita Singapura hanya 400 dolar AS. Faktanya, tatkala Lee mengundurkan diri 31 tahun kemudian (1990), GNP per capita Singapura meningkat 60 kali lipat atau 6000%.

Visi Indonesia awalnya digagas di Manado bulan Juli 2006 dalam Kongres XVI Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), beberapa saat setelah CT (Chairul Tanjung) terpilih sebagai Ketua Yayasan Indonesia Forum yang baru. Pembicaraan awal bahkan hanya dilakukan di sebuah restoran sea food antara CT, Raden Pardede dan saya. Gagasan ini kemudian lebih mengemuka ketika UBS (United Bank of Switzerland) , Januari lalu menerbitkan laporan setebal 300 halaman, “Essential 2007″. Disusun oleh 1000 ekonom, analis dan peneliti, yang menyebutkan bahwa pada tahun 2025, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar setelah Cina, Amerika Serkat, Uni Eropa, India, Jepang dan Brasilia.

Data inilah yang kemudian menginspirasi tim perumus – dipimpin Dr. Raden Pardede ketika menyusun kerangka dasar “Visi Indonesia 2030″. Kelompok itu terdiri dari wakil pengusaha, ekonom, dan birokrat, di antaranya Bambang P.S Brojonegoro dan M. Chatib Basri (Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia). Ainun Na’im (UGM), Suahasil Nazara (Institut Pertanian Bogor), John Prasetyo, TP Rachmat dan Darwin Silalahi (kalangan bisnis) serta Anny Ratnawati (birokrat). Dengan demikian, tidak benar kalau dikatakan di belakang Visi Indonesia 2030 adalah Anthony Salim atau konglomerat lain.

Visi ini juga bukan gagasan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Mengapa peluncurannya harus di istana dan dihadiri oleh jajaran menteri dan dan para pimpinan lembaga tinggi negara? Karena periode terpenting dari Visi 2030 adalah 2005-2010, yang kebetulan menjadi tanggung jawab pemerintah sekarang.

Menyimak pro dan kontra Visi Indonesia 2030 secara sederhana bisa dilihat sebagai dua kelompok yang berbeda cara pandangnya. Pihak pertama, mereka yang pesimistis bahwa visi itu akan terlaksana melihat kondisi riil yang sama sekali tidak mendukung prediksi yang dikemukakan. Sementara “Indonesia Forum” melihatnya lewat pemikiran out of the box , sehingga dengan rasa optimisme yakin bahwa angka 18.000 dolar AS bukan hal yang mustahil.

Catatan persyaratannya memang panjang: reformasi perpajakan, reformasi birokrasi, reformasi sistem hukum, good governance dan ditunjang komitmen semua pihak. Akhirnya paling penting di atas semua itu adalah adanya pemimpin yang memiliki “a vision and strong leadership”.

Seperti dikatakan Maxwell: “The pessimist complains about the wind, the optimist expects it to change. The leader adjusts the sails (Yang pesimis merisaukan badai yang kencang. Yang optimis mengharap badai segera berlalu. Pemimpin mengatur arah layar agar tetap melaju.***

Penulis , pengurus Yayasan Indonesia Forum.

Kategori: filsafat · psikologis dan keluarga

Kekuatan atau Kelemahan?

Mei 22, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kekuatan atau Kelemahan?
Penulis tidak diketahui, Bits & Pieces, August 15, 1996, Economic Press Inc

Kadang kelemahan kita bisa menjadi kekuatan terbesar kita. Ambil contoh kisah seorang bocah 10 tahun yang memutuskan untuk mempelajari judo walaupun ia telah kehilangan lengan kirinya dalam sebuah kecelakaan mobil.

Sang bocah belajar dari seorang guru judo Jepang. Bocah ini benar-benar belajar dengan baik, sehingga ia sendiri tidak paham, kenapa setelah tiga bulan latihan, sang guru hanya mengajarkannya satu gerakan.

“Sensei,” akhirnya sang bocah bertanya, “Bukankah saya seharusnya sudah belajar gerakan lainnya?”

“Ini adalah satu-satunya gerakan yang kamu tahu, tapi ini juga satu-satunya gerakan yang perlu kamu ketahui” jawab sang Sensei.

Walau tidak begitu memahami, tapi tetap percaya pada gurunya, bocah ini tetap berlatih dan berlatih.

Beberapa bulan kemudian, sang sensei mengantarkan sang bocah ke turnamen pertamanya. Terkejut pada kemampuannya sendiri, sang bocah dengan mudah memenangkan dua pertarungan pertamanya. Pertarungan ketiga lebih sulit, tapi setelah beberapa saat, lawannya kehilangan kesabaran dan menyerang, sang bocah dengan piawai menggunakan satu gerakannya untuk memenangkan pertarungan. Masih heran dengan kemenangannya, sang bocah masuk final.

Kali ini, lawannya lebih besar, lebih kuat, dan lebih berpengalaman. Untuk beberapa saat sang bocah terlihat tidak sepadan dibanding lawannya. Karena kuatir sang bocah bisa cedera, wasit menyerukan time-out. Ia bermaksud menghentikan pertarungan saat sang sensei menginterupsinya.

“Tidak,” interupsi sang sensei,”Biarkan ia melanjutkan.”

Segera setelah pertarungan dilanjutkan, lawannya membuat kesalahan kritikal: ia lalai dalam pertahanannya. Secara cepat sang bocah menggunakan satu gerakan untuk menguncinya. Sang bocah memenangkan pertarungan dan kejuaraan. Ialah sang juaranya.

Dalam perjalanan kembali ke rumah, sang bocah dan senseinya mempelajari kembali setiap gerakan di pertarungan hari itu. Lalu sang bocah berani menanyakan yang terus dipikirkannya.

“Sensei, bagaimana saya bisa memenangkan kejuaraan hanya dengan satu gerakan?”

“Kamu menang karena dua alasan!” jawab sang sensei. “Pertama, kamu hampir memahiri salah satu bantingan tersulit dari semua gerakan di judo. Kedua, satu-satunya pertahanan yang telah diketahui terhadap gerakan itu adalah jika lawan kamu menangkap lengan kiri kamu”

Kelemahan sang bocah telah menjadi kekuatan terbesarnya.

Kategori: filsafat

What Are You Missing In Life?

Mei 22, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

What Are You Missing In Life?

Vikki Kumar

Something is missing!

After attaining the best of things we once desired in our lives, there is a feeling of missing out on something really important, which nags us all the time.

Ever wondered what it is?

That feeling of emptiness, which is so predominant in our lives, often makes us question the reason of our existence – why am I living?  –  For what am I living?  –  For whom should I live?

Our mind is clogged by these thoughts, often leaving us with a feeling of helplessness and frustration. Nothing interests us any more; not fame, fortune, family nor friends. Our life is stagnated. We work tirelessly to attain what we have, but it’s of no use to us as it doesn’t interest us any more.

Regardless of the status we hold in the society, this kind of confusion does occur in everyone’s lives. Have we ever wondered what it is that we are missing in our highly contended life?

We even venture out to seek that, running from pillar to post. We fail to understand what exactly is not present in our so fulfilled life. I think the reason for this syndrome is the fact that we miss God.

While growing up as an individual, in every aspect, we forget to thank the almighty for the smallest of small mercies He bestows upon us. His presence is completely erased from our lives, so our belief in the presence of God diminishes, over a period of time.

Subsequently, the place is empty, creating a huge vacuum in us forever. Being thankful is a way of appreciating the goodness of life. Most of the time we enjoy and appreciate the good things in life, but fail to thank the one who provided them. This kind of behavior precipitates a feeling of guilt, and eats at us all the time.

Like Swami Vivekanand said, “Remember Him effortlessly. Make God a habit. If He is the habit, contentment is optimum; the feeling of lost and being lonely will never bog us down. Let His omnipresence empower us, leaving the result on Him when we perform our duties. With dedication, there is no reason for us to be negative about anything in our life

Kategori: filsafat · psikologis dan keluarga

Sang Alkemi

April 6, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sang Alkemi

Diadaptasi dari: Hazrat Inayat Khan

Pernahkah anda mendengar istilah Alkemi? Alkemi dikenal sebagai sebuah
ilmu yang mampu mengubah besi menjadi emas. Dalam banyak kisah, beberapa
orang menganggapnya sebagai sebuah sihir belaka, tetapi yang lain
percaya bahwa ilmu itu benar-benar ada. Dan, siapa yang tak tergiur
untuk bisa menguasai ilmu alkemi? Hanya dengan kemampuan alkemi, ia bisa
mengubah besi menjadi emas dan tentu menjadi kaya-raya.

Alkisah, di sebuah negara di Timur ada seorang Raja yang hendak mencari
orang yang benar-benar mengerti tentang alkemi. Sudah banyak orang
datang pada Raja, tetapi ketika diuji, mereka ternyata tidak mampu
mengubah besi menjadi emas.

Suatu ketika seorang menteri berkata pada Raja bahwa di sebuah desa
terdapat seseorang yang hidup sederhana dan bersahaja. Orang-orang di
sana mengatakan bahwa ia menguasai ilmu alkemi. Segera saja Raja
mengirimkan utusan untuk memanggil orang itu. Sesampainya di istana,
Raja mengutarakan maksudnya ingin mempelajari ilmu alkemi. Raja akan
memberikan apa yang diminta oleh orang itu.

Tetapi apa jawab orang desa itu, “Tidak. Saya tidak mengetahui sedikit
pun ilmu yang Baginda maksudkan.”

Raja berkata, “Setiap orang memberitahu aku bahwa engkau mengetahui
ilmu itu.”

“Tidak, Baginda,” jawabnya bersikeras. “Baginda mendapatkan orang yang
keliru.”

Raja mulai murka dan mengancam. “Dengarkan baik-baik!” kata Raja. “Bila
kau tak mau mengajariku ilmu itu, aku akan memenjarakanmu seumur hidup.”

“Apa pun yang Baginda hendak lakukan, lakukanlah. Baginda mendapatkan
orang yang keliru”

“Baiklah. Aku memberimu waktu enam minggu untuk memikirkannya. Dan,
selama itu kau akan dipenjara. Jika pada akhir minggu ke enam kau masih
berkeras hati, aku akan memenggal kepalamu.”

Akhirnya orang itu dimasukkan ke dalam penjara. Setiap pagi Raja datang
ke penjara dan bertanya, “Apakah kau telah berubah pikiran? Maukah kau
mengajariku alkemi? Kematianmu sudah dekat, berhati-hatilah. Ajari aku
pengetahuan itu.”

Orang itu selalu menjawab, “Tidak Baginda. Carilah orang lain. Carilah
orang lain yang memiliki apa yang Baginda inginkan, saya bukanlah orang
yang Baginda cari.”

Setiap malam ada seorang pelayan yang melayani orang itu dalam penjara.

Pelayan itu berkata bahwa Raja mengirimnya untuk melayani orang itu
sebaik-baiknya. Pelayan itu menyapu lantai serta membersihkan ruangan
penjara itu. Pelayan itu juga selalu mengantarkan makanan dan minuman
untuk orang itu, memberikan simpati kepadanya, melakukan apa saja yang
diminta oleh orang itu, dan bekerja apa saja selayaknya seorang pelayan.

Pelayan itu selalu menanyakan, “Apakah anda sakit? Apakah ada sesuatu
yang dapat saya lakukan untuk anda? Apakah anda lelah? Bolehkah saya
membersihkan tempat tidur anda? Maukah anda bila saya mengipasi anda
hingga anda tertidur, udara di sini panas sekali.” Dan, segala sesuatu
yang bisa pelayan itu lakukan, maka ia lakukan saat itu juga.

Hari terus belalu. Dan, kini tinggal satu hari lagi sebelum kepala
orang itu dipenggal. Pagi hari Raja mengunjungi dan berkata, “Waktumu
tinggal sehari.

Ini kesempatan bagimu untuk menyelamatkan nyawamu sendiri.”

Tetapi orang itu tetap saja berkata, “Tidak Baginda. Yang Baginda cari
bukanlah hamba.”

Pada malam hari, sebagaimana biasa pelayan itu datang. Orang itu
memanggil pelayan itu untuk duduk dekat dirinya kemudian diletakkan
tangannya di bahu pelayan itu dan berkata, “Wahai orang yang malang.
Wahai pelayan yang malang. Engkau telah berlaku sunguh baik terhadap
diriku. Kini aku akan membisikkan di telingamu sebuah kata tentang
alkemi. Sebuah kata yang akan membuatmu mampu mengubah besi menjadi
emas.”

Pelayan itu berkata, “Aku tak tahu apa yang kau maksudkan dengan alkemi.
Saya hanya ingin melayani anda. Saya sungguh sedih bahwa besok anda akan
dihukum mati. Itu sungguh mengoyak hatiku. Saya harap saya bisa
memberikan jiwa saya untuk menyelamatkan anda. Seandainya saya bisa,
sungguh saya sangat bersyukur.”

Sang alkemi menjawab, “Lebih baik aku mati daripada memberikan ilmu
alkemi ini kepada orang yang tidak layak menerimanya. Ilmu yang baru
saja aku berikan kepadamu dalam simpati, dalam penghargaan, dan dalam
cinta, tak akan kuberikan kepada Raja yang akan mengambil nyawaku besok.
Mengapa demikian?
Karena engkau pantas menerimanya, sedangkan Raja itu tidak.”

Esok harinya, Raja memanggil sang alkemi dan memberikan peringatan
terakhir.

“Ini adalah kesempatan terakhirmu. Kau harus mengajariku ilmu alkemi,
bila tidak lehermu harus dipenggal.”

Sang alkemi menjawab, “Tidak Baginda, anda mendapatkan orang yang
keliru.”

Raja pun, “Baiklah. Aku putuskan kau untuk bebas, karena kau telah
memberikan alkemi itu padaku.”

Sang alkemi keheranan, “Kepadamu? Saya tidak memberikannya pada Baginda
Raja. Saya telah memberikannya pada seorang pelayan.”

“Tahukah kau, bahwa orang yang melayanimu setiap malam adalah aku,”
jawab sang Raja.

Renungan Editor: Banyak orang menginginkan emas dalam hidupnya dengan
mempelajari alkemi. Tetapi saat ia mencapai tujuannya, bukan emas yang
ia temukan, justru ia sendiri menjadi emas itu.

Sumber: Spiritual Dimensions of Psychology

Kategori: filsafat