From: Daryono@ikpt.com
Subject: Fw: Berbagi Cinta
Date: Thu, 21 Dec 2006 10:12:32 +0700
To: smategal80-an@googlegroups.com
Ini cukup membuat saya trenyuh dan ini pula yang membuat saya ikut bercerita Tapi ini kejadiannya menimpa pada seekor binatang bukan pada sesama manusia seperti yang diceritakan pak Toni di atas Mungkin rasa berbagi cintanya sama , cuma beda objeknya Keluargaku terutama istriku suka seekor kucing Kucing yang kami pelihara itu sejak ia masih kecil sakit2-an ditelantarkan oleh sang induk Kami pelihara, kemudian tumbuh menjadi sehat, gemuk dan lucu sekali kalau melihat tingkah lakunya Jadi ada dua ekor tapi lain induk dan kami umpamakan kakak beradik Kemana saja ia pergi selalu berdua, tidur, bermain, bercanda…… lucu sekali Yang satu berwarna coklat, gemuk, bersih dan sehat Tapi kelihatan kasihan karena dia bisu tidak terdengar suaranya seperti kucing pada umumnya selalu meong.. meong.. kalau lagi lapar minta makan Cuma bersuara singkat ngek… ngek… Tidak nakal dan cukup jinak Yang satunya berwarna kehitam2-an , kurus dan panjang Si kurus ini yang selalu mengajak bercanda si coklat kalau sedang santai Mungkin dalam hati saya karena si coklat ini kan bisu…. jadi untuk membuat selalu ada dan ramai, si kurus selalu mengajak bermain dan bercanda Sehingga tampak ceria kedua duanya kalau sedang berdua Melihat tingkah lakunya aku sering gemes dan tertawa sendiri Ternyata binatang saja bisa membuat orang jadi terhibur Anakku dua2nya suka bermain dengan si coklat dan si kurus Di peluk, diangkat, diayun layaknya sepert anak kecil Setiap hari 3 kali makan, yang ini istriku yang selalu menyiapkan Sengaja beli “ikan cuek” atau titip tetangga yang pergi ke warung atau pasar Kalau sudah begini, saat paling ramai mereka dengan meong.. meongnya sangat berisik Tapi kalau lihat si coklat , karena dia bisu jadi cuma mondar mandir tidak seperti lainnya Ditambah lagi dengan dua ekor kucing dewasa yang setiap waktu makan tiba, dia akan datang dan minta jatah Tapi istriku melayani mereka2 layaknya anak2nya sendiri Setelah makan mereka akan pergi sendiri2, tinggallah dua ekor si coklat dan si kurus tidur di dalam rumah Beginilah setiap hari kami memperlakukan binatang ini seperti anak2 kecil yang sudah ditinggal orang tuanya Lucunya lagi setiap kali istriku pergi keluar rumah untuk suatu kepentingan misalnya ketetangga, ke warung atau kesuatu tempat Si coklat dan si kurus akan ikut dibelakangnya menguntit Setiap malam kami keluarkan, biar dia tidur di luar dan bermain di halaman Tapi setiap kali pintu di buka maka membuyarlah dia berebut masuk ke rumah Tapi sudah beberapa hari ini si kurus tidak kelihatan maka istriku mencari dan ketemu di depan rumah tetangga Tapi tampaknya ia sedang sakit lalu diangkat dan di bawa pulang Dilihat dan di perlakukan seperti anak kecil yang sedang sakit Tidak mau makan dan tengkurap saja posisinya di tempat yang dingin dan lembab Tampaknya dia sakit dibagian perut dalam hati mungkin ada yang meracuni ( perkiraan) Sampai saya perhatikan ia kuat tidak makan sampai 2 minggu lebih Badannya tambah kurus karena aslinya sudah kurus Tiba tiba si coklat juga tampaknya sakit tapi karena ia gemuk dan sehat tidak kentara Tapi malam itu istri bangun jam 03.00 untuk menunaikan kewajiban makhluknya kepada yang khalik Dan mencari cari kedua kucing kesayangannya kesemua sudut Tapi alangkah kagetnya ketika didapainya si coklat sudah terbujur kaku di belakang mesin cuci yang lembab karena habis hujan turun Istri tampak sedih aku dibangunin dari tidur dan melihat apa yang terjadi Benar bahwa si coklat yang menjadi lesayangan kami telah mati dengan mata melotot Sepertinya ia membawa beban berat atau sakit berat Kemudian aku angkat dan mencoba untuk menutup matanya supaya bisa merem Semua anak2ku aku bangunin untuk melihat yang terakhir kali kalau si coklat telah mati Dan menyaksikan penguburannya Aku tutup tubuhnya dengan selembar kain dan membuat lubang kubur di dalam rumah Waktu menunjukkan jam 03.30 aku melanjukan untuk mengambil wudhu dan sholat Sampai kisah ini saya tulis si kurus sudah beberapa hari yang lalu tampak sudah sehat makan seperti bisanya Dan ternyata si kurus sudah punya teman lagi Si coklat belang2 sebagai temannya pengganti si coklat yang mati Dan anehnya lagi coklat belang2 yang baru, ternyata tidak bisu melainkan cerewet maka kami sepakat menamakannya “si cerewet”
1 response so far ↓
Suluh // Juni 5, 2007 pada 4:18 am |
Oh ini cerita ya… tak kira ada hubungan dengan filsafat… Salam kenal…